Mengatasi Kecemburuan Kakak-Adik | Hizbut Tahrir Indonesia
Ahmad,
bocah mungil yang belum genap tiga tahun itu menghentakkan kakinya ke lantai
dengan marah. Ia siap melempar mainannya ke arah Uminya yang sedang menyusui
adiknya yang belum genap tiga minggu. Umi Ahmad hanya bisa mengelus dada. Sejak
kelahiran adik baru, tingkahnya berubah 180 derajat. Ahmad kecil yang tadinya
sangat penurut tiba-tiba suka berteriak-teriak, marah-marah dan bertambah
cengeng. Sedikit saja kemauannya tidak dituruti, ia akan mengamuk. Yang jadi
sasaran utama biasanya Umi atau adik barunya. Entah menggigit, melempar barang,
atau memukul.
Sebagaimana
anak-anak pada umumnya, apa yang terjadi pada Ahmad kecil itu wajar saja.
Begitulah anak-anak. Mereka membutuhkan proses untuk mengerti dan menerima
kehadiran adik baru. Kita bisa membayangkan, selama ini perhatian Uminya
sebagai orangtua berpusat pada Ahmad. Namun, setelah adanya adik baru,
perhatian Umi “terbagi”.
Rasa
cemburu kakak kepada adik barunya biasanya terjadi jika kakak masih berusia 1-3
tahun. Pada rentang usia ini anak masih sangat bergantung pada orangtua (ibu)
untuk memenuhi kebutuhannya. Mereka belum belajar untuk berbagi ibu kepada yang
lain dan adik baru bisa mengancamnya. Setelah usia 3 tahun, anak menjadi lebih
mandiri, tidak terlalu bergantung kepada orangtua (ibu) untuk pemenuhan
kebutuhannya. Reaksi ketidak-terimaan itu biasanya berbeda-beda pada tiap anak.
Ada yang bereaksi dengan mengamuk seperti Ahmad, ada juga yang bahkan menjadi
sangat pendiam dan tidak pernah berulah. Namun, pada dasarnya ia menyimpan
sebuah tekanan yang sangat besar dan berat.
Persiapan
menyambut adik baru jauh-jauh hari memang mesti dilakukan, terutama agar si
kakak dapat siap menerima saat si adik datang. Namun, jika hal itu tidak
dilakukan, tidak ada kata terlambat jika kita mengajarkannya setelah adik
lahir. Lalu apa saja yang semestinya orangtua lakukan agar kakak tidak cemburu
dengan adik barunya? Berikut beberapa langkahnya.
1. Siapkan mental kakak sebelum adik
lahir.
Jauh sebelum adik lahir libatkan calon kakak dengan
aktivitas yang berhubungan dengan menyambut kehadiran adik barunya. Misalnya,
dengan menyiapkan nama, menata kamar adik bayi dan sebagainya. Beri pemahaman
terus menerus jika dia akan punya adik yang harus disayanginya. Selama
kehamilan, bangun rasa memiliki dan gembira menyambut kelahiran adik dengan
mengatakan jika dia akan punya teman bermain bukannya pesaing. Agar ia tak
terkejut, ceritakan sejak awal, bahwa yang namanya bayi itu memang sering
menangis karena belum bisa berbicara, akan sering menyusu dan minta digendong.
Berikan kakak pengertian, bahwa ketika adik lahir, akan sangat repot mengurus
adik bayi. Jadi, ibu tidak bisa menemaninya sesering dulu. Mintalah
“bantuannya” untuk mau main sendiri, bahkan membantu sesuai kemampuannya. Saat
belanja keperluan bayi, jika mengajak kakak, jangan lupa membelikan sesuatu
untuknya agar dia tak merasa dinomorduakan. Siapkan hadiah juga untuk kakak,
karena biasanya bingkisan datang untuk si adik saja. Ini bisa memicu rasa
cemburu kakak. Anak yang diberi pengertian sejak awal, juga diajak “menyambut”
adik baru, insya Allah akan lebih mudah diarahkan.
2. Libatkan kakak setelah adik
lahir.
Setelah adik lahir, libatkan kakak dalam merawat adik
sehari-hari. Ibu bisa meminta bantuannya untuk mengambilkan baju, meletakkan
popok basah di ember, mengajak memandikan adik atau bahkan membantu mendiamkan
ketika adiknya menangis. Jangan lupa ucapkan terima kasih jika kakak dapat
melakukannya dengan baik. Jika ada yang berkunjung dan membawa bingkisan untuk
adik, mintalah kakak membuka bingkisan dari tamu dan ceritakan jika hal yang
sama terjadi saat dirinya lahir. Jika perlu, terus berada di sampingnya saat
tamu berkunjung dan menggendong adik bayi, agar kakak tidak merasa diabaikan.
Akan lebih baik lagi jika dapat memperlihatkan foto atau rekaman masa bayinya.
Dengan foto atau rekaman tersebut, ibu bisa memberikan pemahaman, bahwa ketika
bayi pun, kakak seperti adiknya, menangis, digendong, dipeluk, disayangi dan
mendapatkan perhatian dari semua orang. Dengan demikian, kakak akan belajar
memahami, bahwa adik bayi memang masih sangat memerlukan bantuan orang lain,
dan ia akan mulai mengerti dan menaruh empati pada adik bayinya.
3. Luangkan waktu.
Agar kakak tak cemburu, jangan lupa meluangkan waktu
untuknya, Sediakan waktu untuk menemaninya bermain saat adik bayi sedang tidur.
Sebisa mungkin tetap melakukan kebiasaan merawat kakak seperti dulu. Misalnya
menyiapkan sarapan, membuatkan susu dan membacakan dongeng sebelum tidur.
Luangkan waktu secara khusus setiap harinya, sesuai skala prioritas. Awasi dia
lebih banyak daripada yang biasa dilakukan. Anak-anak akan menghargai saat-saat
berharga ini. Setiap anak punya kebutuhan berbeda. Jangan lupa, sesibuk apa pun
mengurus si adik, curahan perhatian kepada sang kakak jangan sampai berkurang
porsinya. Dengan demikian, kecemburuan si kakak pada adiknya bisa diminimalkan
dan persaingan di antara mereka dapat dihindarkan. Yakinkan bahwa ia tetap
mendapat perhatian yang sama, meskipun ada adik. Buktikan hal tersebut dengan
tidak selalu menyalahkan kakak dan memenangkan adik. Begitu pula ketika
menyadari telah mengabaikannya, segera luangkan waktu untuk menemaninya bermain
atau melakukan aktifitas yang disukai.
4. Berikan pujian atau hadiah.
Berikan pujian atau hadiah jika kakak mau bekerjasama,
bersikap kooperatif. Pujian atau hadiah diberikan untuk memperkuat perilaku
agar anak mengerti bahwa, perilaku inilah yang diharapkan dari anak. Puji dan
beri perhatian lebih bila anak-anak bersikap baik. Ibu bisa memberikan pujian
semacam, “Subhanallah, kakak pintar sekali, shalih, sudah bisa ambil susu
sendiri. Umi bangga sama kakak, sambil dipeluk erat atau acungkan jempol.” Atau
berikan hadiah sesuai dengan yang dibutuhkan anak. Memberikan hadiah akan
menumbuhkan rasa cinta.
5. Hindari membandingkan.
Masing-masing anak adalah individu yang unik. Oleh sebab
itu, berikan mereka perhatian sesuai dengan kebutuhan dan keinginan mereka
masing-masing. Kompetisi memang sering dilakukan orang tua untuk memotivasi
anak-anak. Namun, jangan sampai membanding-bandingkan si adik dengan kakaknya,
atau sebaliknya, karena justru akan menimbulkan kecemburuan. Perhatikan
potensinya, dan kembangkan dengan memberikan latihan-latihan atau kegiatan
khusus. Membandingkan juga tidak sehat karena membuat anak jadi kecil hati dan
melunturkan rasa percaya dirinya. Lebih baik, bantulah ia untuk berpikir
positif dan besarkan hatinya. Berikan terus motivasi kepada anak . Misalnya
ketika kakak akan memakai baju, katakan kepadanya, “Ibu yakin kamu sudah bisa
pakai baju sendiri. Ayo coba, ibu mau lihat bagaimana caranya.” Jangan
lupa berikan senyuman yang paling manis atau pujian jika kakak menunjukan suatu
perkembangan positif dalam hal apa pun.
6. Dengarkan perasaan anak.
Mendengarkan perasaan anak penting untuk mengetahui apa
sesungguhnya yang menjadi penyebab kecemburuan. Cobalah gali perasaannya dengan
meminta anak bercerita. Akan tetapi, hindari pertanyaan yang membuat anak malah
tak mau mengungkapkan perasaannya. Ajak anak berdialog dari hati ke hati.
Jangan salah, kebutuhan attachment anak dengan orangtua (ibu) masih
tinggi. Oleh sebab itu, saat berkomunikasi dengannya, tunjukkan bahwa orangtua
dapat mengerti dan memahami perasaannya secara tepat, dan tunjukan pula
perhatian yang tulus.
7. Bersikap adil jangan pilih kasih.
Adik baru memang akan selalu menjadi pusat perhatian. Namun,
jangan sampai orangtua (ibu) melalaikan kakak atau anak-anak yang lain. Mereka
pun memiliki hak yang sama untuk diperhatikan. Ketidakadilan dan sikap pilih
kasih orang tua terhadap anak-anak akan menimbulkan rasa cemburu dan dengki
dalam jiwa anak karena merasa dirinya disisihkan. Karena itulah, Rasulullah
saw. telah menerangkan bagaimana cara memperlakukan anak dengan adil dan tidak
pilih kasih. Rasulullah saw. bersabda:
اتَّقُوا اللهَ وَاعْدِلُوا فِي
أَوْلاَدِكُمْ
Bertakwalah
kepada Allah, bersikaplah adil terhadap anak-anak kalian (HR Muslim).
Mengistimewakan
satu atas yang lainnya akan memberikan dampak yang buruk terhadap anak, yaitu
munculnya sikap cemburu, iri, dengki bahkan permusuhan yang dapat berujung pada
pemutusan tali persaudaraan. Selain itu, sikap pilih kasih juga akan
mengakibatkan memburuknya hubungan anak dengan orangtua. Akibatnya, hubungan
anak dengan orangtua pun menjadi tidak harmonis.
8. Mintalah bantuan orang ketiga.
Jika kakak memang kemudian membuat ulah dan susah
dikendalikan, maka bisa saja mempekerjakan pengasuh untuk membantu menjaga adik
bayi pada saat-saat tertentu, agar ibu tetap bisa memperhatikan si kakak.
Buatlah komitmen dengan suami untuk saling bekerjasama dalam mengurus dan
merawat anak. Misalnya, saat adik bayi menangis, suami harus segera tanggap
untuk mengalihkan perhatian si kakak.
Dengan mengajarkan hal-hal tersebut, diharapkan kakak akan
senang menyambut kelahiran adik baru dan menyayanginya dengan tulus. Karena
dengan saling menyayangi keharmonisan hubungan kakak adik akan terjalin dengan
erat, dan akan membuat kedua orang tuanya bahagia.
Comments
Post a Comment
Forum