Memenuhi Kebutuhan Anak
Memiliki anak saat ini dipandang repot. Apalagi
dalam jumlah tak sedikit. Banyak kebutuhan yang wajib dipenuhi orang tua agar
anak tumbuh maksimal. Terlebih jika si anak sudah mulai memiliki banyak
tuntutan. Memenuhinya berarti butuh banyak pengorbanan, tak mengabulkannya
orang tua merasa bersalah.
Di satu sisi ada kekhawatiran, jika memenuhi
segala keinginan anak akan mendidiknya menjadi manja. Sebaliknya, jika
mengabaikan keinginan anak, orang tua merasa khawatir dianggap melalaikan
hak-hak anak.
Nah, apa sesungguhnya yang wajib dipenuhi orang
tua? Apakah kita akan selalu memenuhi semua keinginan anak sebagai wujud kasih
sayang? Bagaimana pula mengompromikan antara kebutuhan atau sekadar keinginan
anak? Untuk menjawab hal ini, harus dipahami dulu, apa saja kebutuhan anak.
Setidaknya bisa dibagi dua, yakni kebutuhan materi dan nonmateri.
1. Kebutuhan Materi
Di antaranya makan dan minum. Maka, orang tua wajib menyediakan makanan bergizi, halal dan thoyib. ¨Dan kewajiban atas ayah,memberikan makan dan pakaian pada ibu dengan cara yang ma’ruf¨ (TQS Al-Baqarah: 233).
Orang tua harus menjamin anak-anak memenuhi kebutuhan mereka. Jika masih usia balita, tentu butuh ketelatenan dari ibu khususnya, sehingga tak membiarkan buah hatinya dalam kondisi lapar dan haus. Lepas masa balita, anak harus mulai mandiri, mampu memenuhi kebutuhan rasa lapar dan hausnya sendiri. Ini butuh peran orang tua untuk memahamkan anak mengenai pentingnya makan saat lapar dan minum saat haus.
Bagaimana dengan kebutuhan materi berupa uang jajan, mainan, baju baru atau gadget tercanggih?
Uang jajan, jika itu dalam rangka memenuhi rasa lapar, tentu boleh saja dipenuhi. Sebab, anak-anak memang memiliki masa-masa di mana mereka biasa ngemil alias butuh makanan selingan pada jam-jam tertentu. Semisal saat usia balita, ada snack time agar perutnya tidak kosong. Hanya, harus diarahkan jajan yang cukup mengenyangkan sehingga bukan sekadar cemilan tanpa gizi.
Demikian pula baju, merupakan kebutuhan pokok yang juga wajib dipenuhi jika anak memang membutuhkannya. Adapun mainan, bagi yang memiliki rezeki cukup, silakan memenuhinya jika memang anak membutuhkannya. Ingat, ¨butuh¨ dan bukan sekadar ¨ingin¨. Sebab, seperti halnya orang dewasa, keinginan anak tak ada habisnya. Sudah dibelikan satu set mainan, masih ingin yang serupa lagi. Padahal fungsinya sama. Dalam kondisi seperti ini, tak wajib selalu memenuhi keinginanannya. Demikian pula, jangan menjejali anak dengan materi yang tak dibutuhkannya. Semisal balita, tentu belum butuh alat komunikasi seperti telepon seluler, meski orang tua mampu membelikannya.
2. Kebutuhan Non Materi
Di antaranya, anak butuh rasa aman.
Mengunjungi dokter atau pertama masuk sekolah, biasanya anak rewel karena
merasa tidak aman bertemu orang asing. Penting peran ibu menenangkan anak dan
membuat mereka nyaman dan aman. Untuk itu, anak butuh sosialisasi dengan
lingkungan. Mengajaknya ke keramaian seperti pengajian, masyiroh, seminar atau
acara mendongeng, membantu mereka mengenal lingkungan dan menyesuaikan diri..
Selain itu, anak butuh kasih sayang melebihi
kebutuhan materi. Perhatian, komunikasi intensif dan pelukan membuat anak
bahagia. Anak butuh pula penghargaan. Seperti orang dewasa, anak butuh dihargai
usahanya, kerja kerasnya, perilakunya, kebaikannya, dan seluruh perkembangan
tumbuh kembangnya. Ingat, mereka telah bekerja keras untuk mencapai progress
sesuai harapan kita. Ketika mereka merasa dihargai di rumah, mereka akan tumbuh
menjadi pribadi percaya diri.
Anak juga butuh aktualisasi diri. Sama halnya
orang dewasa, anak juga butuh ruang sendiri untuk berekspresi, me time.
Tugas orang tua untuk mengenali potensi dan minatnya, lalu arahkan.
Sering-sering kenalkan dengan hal-hal baru agar mereka maksimal mengekplorasi
potensinya.
Comments
Post a Comment
Forum